Sp3-TeL

Sp3-TeL
Aksi Mayday 2013 di Muara Enim

Jumat, 20 Juli 2012

Mencoba Untuk Belajar Ideologi Buruh



Ditulis oleh : M.Ikhsan Prajarani (Pengurus serikat pekerja).

Ekonomi pasar Liberal telah merontokan semua sendi kehidupan masyarakat dan negara. Buruh, yang menjadi korban langsung dalam sistim tersebut, perlu mencari bentuk gerakan yang cocok. Tentu saja dengan memaksimalkan media serikat buruh sebagai basis gerakannya. Diantara sekian banyak lapisan masyarakat sipil di Indonesia, kelas buruh selalu mendapat prioritas terakhir. Fenomena seperti ini cukup mengenaskan,mengingat bahwa buruh setidaknya menempati sepertiga dari total tenaga kerja.

Hingga kini,program pemberdayaan buruh mengacu pada kerja-kerja konkret dan tekhni. Utamanya adalah pembentukan serikat buruh ditiap perusahaan pada sisi kepraktisannya.Advokasi ditekankan pada pengetahuan tentang hukum-hukum perburuhan dan penguasaan keterampilan yang dapat menunjang pekerjaan mereka. Program seperti ini bagus dan baik untuk buruh, tapi tidak mencukupi untuk melahirkan sebuah gerakan kesadaran.Dalam hal ini, aspek lain yang mengikat solidaritas buruh adalah ikatan ideologis.

Dalam banyak kasus,kajian-kajian seputar ideologi sering dianggap sepele.Komunikasi dengan komunitas buruh sering searah,tidak membuat titik api kesadaran dalam jiwa-jiwa mereka.Buruh acapkali sekedar digunakan sebagai alat mobilisasi massa.Bentuk hubungan semacam ini semakin menegaskan stereotipe bahwa buruh memang tidak punya ideologi,yang hanya memposisikan mereka sebagai warga kelas dua,sebagaimana yang dicitrakan dengan sepenuh hati oleh korporasi.

Ada beberapa pertanyaan kritis dibenak kita ketika berbicara kondsi perburuhan Indonesia, diantaranya : Mengapa gerakan buruh di Indonesia tidak sekuat gerakan buruh di Eropa,Amerika Latin, Jepang atau Korea ?

Salah satu faktor yang memperlemah gerakan buruh di Indonesia adalah ketiadaan nilai-nilai dasar perjuangan telah membuat gerakan buruh Indonesia menjadi Pragmatis,terfragmentasi, stagnasi dan mudah dikooptasi. Ketiadaan dasar gerakan yang jelas membuat buruh Indonesia tidak punya cita-cita dan gagasan yang besar.Ibarat orang hidup tanpa Ruh dan Jiwa,gerakan buruh mengalami involusi,bergerak kedalam yang mengakibatkan konflik internal yang kronis.Antara aktivis buruh saling hantam dan saling sikut di internal organisasi.

Tulisan kembali ini hanya mengingatkan kita,betapa pentingnya cita-cita besar atau ideologi bagi sebuah gerakan. Tulisan ini juga mengingatkan kita bahwa musuh besar perjuangan kita ternyata ada dalam mental dan pola pikir kita. Kapitalisme sulit dikalahkan karena kita juga bermental kapitalis, dan secara tidak sadar kita berpartisipasi aktiv dalam penindasan tersebut. 


Sumber : 
Andito "Buruh Bergerak" Hal 3-7 ,Penerbit Trade Union Care Center (TUCC) dan FES

Tidak ada komentar:

Posting Komentar